happy experience

Bioteknologi

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI  “PENGARUH PENAMBAHAN GULA DALAM PROSES PEMBUATAN TAPE KETAN HITAM”

 Disusun oleh:

Dania Ramadani                            (1111016100004)

Kartika Dewi                                  (1111016100011)

Mutia Ulfah                                    (1111016100014)

Fitria Anggraeni                              (1111016100030)

Rahmatun Nazilah                          (1111016100037)

Regiani Yunistika                           (1111016100039)

 

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakterifungivirus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzimalkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Bioteknologi dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu, bioteknologi konvensional (tradisional) dan bioteknologi modern. Pada bioteknologi konvensional produk makanan yang bisa dibuat misalnya berupa, tape, tempe, kecap, dan lain sebagainya.

Dalam praktikum ini kami mencoba membuat produk tape ketan, serta membuat perbandingan antara tape ketan yang ditambahkan gula pada saat proses pembuatan dan tanpa penambahan gula. Alasan kami membuat tape ketan untuk praktikum bioteknologi konvensional, karena bahan dasarnya yang terdiri dari ketan hitam dan ragi mudah dicari serta proses pembuatannya juga tidak memakan waktu yang lama. Selain itu, tape juga dapat dikonsumsi secara langsung.

  1. Rumusan Masalah
  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses fermentasi pada pembuatan tapai ketan hitam?
  2. Mikroorganisme apa saja yang terlibat dalam proses fermentasi tapai ketan hitam?
  3. Adakah pengaruh penambahan gula putih pada proses pembuatan tapai ketan hitam?
  4. Hipotesis
  5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi tapai yaitu oksigen (tempat penyimpanan yang kedap udara), kualitas dan banyaknya ragi yang digunakan, derajat keasaman (pH 5-6), suhu yang tepat, kadar air dan lamanya waktu fermentasi.
  6. Mikroorganisme yang terlibat dalam proses fermentasi tapai seperti Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oryzae dan sebagainya.
  7. Ada pengaruh penambahan gula putih pada proses pembuatan tapai, karena dengan penambahan gula putih rasa tapai akan menjadi lebih manis.

D. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui proses pembuatan tapai ketan hitam
  2. Untuk mengetahui proses terjadinya fermentasi alcohol pada pembuatan tapai ketan hitam
  3. Untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam tapai ketan hitam
  4. Untuk mengetahui organisme yang terlibat dalam proses pembuatan tapai ketan hitam
  5. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses pembuatan tapai ketan hitam

E. Manfaat Praktikum

            Manfaat yang diperoleh setelah dilakukannya praktikum ini yaitu:

  1. Dapat mengetahui proses atau cara pembuatan tapai ketan hitam
  2. Dapat menambah pengetahuan tentang aplikasi bioteknologi tradisional dalam kehidupan sehari-hari
  3. Dapat menambah pengetahuan tentang proses fermentasi yang terjadi pada pembuatan tapai ketan hitam
  4. Dapat meningkatkan nilai ekonomis beras ketan dengan cara dibuat olahan fermentasi berupa tapai ketan hitam

 

  

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tape merupakan makanan tradisional yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Proses pembuatan tape melibatkan proses fermentasi yang dilakukan oleh jamur Saccharomyces cereviceae(Edward, 1988). Jamur ini memiliki kemampuan dalam mengubah karbohidrat (fruktosa dan glukosa) menjadi alcohol dan karbondioksida. Selain Saccharomyces cereviceae, dalam pembuatan tape ini terlibat pula mikroorganisme lainnya, yaitu Mucorchlamydosporus dan Endomycopsis fibuligera. Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi gula sederhana (glukosa) ) (Diana,2002).

Tape mempunyai tekstur yang lunak, rasa yang asam manis dan sedikit mengandung alkohol. Selama fermentasi, tape mengalami perubahan-perubahan biokimia akibat aktivitas mikroorganisme. Pada dasarnya, semua bahan pangan yang kaya akan karbohidrat dapat diolah menjadi tape. Berdasarkan bahan bakunya, dikenal beberapa jenis tape yaitu tape beras ketan hitam, tape sorgum, tape pisang, tape ubi jalar dan tape sukun, akan tetapi dewasa ini yang paling populer adalah tape beras ketan hitam dan tape singkong (Buckle, 1985). Tape ketan merupakan salah satu jenis makanan dari hasil fermentasi bahan baku yang diberi ragi sebagai sumber mikrobanya. Tape ketan sebagai hasil fermentasi menghasilkan alkohol dan gula(Tarigan, 1998).

Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Fermentasi yang terjadi yaitu perubahan pati menjadi gula dan oleh ragi gula diubah menjadi alkohol sehingga ketan menjadi lunak, berair, manis dan berbau alkohol (Anonim, 2009).

Dalam arti umum menurut Tarigan (1988) fermentasi dapat didefinisikan sebagai proses metabolisme dimana akan terjadi perubahan-perubahan kimia dalam substrat organik, kegiatan atau aktivitas mikroba yang membusukkan bahan-bahan yang difermentasi. Perubahan kimia tadi tergantung pada macam bahan, macam mikroba, pH, suhu, adanya aerasi atau usaha lain yang berbeda dengan faktor-faktor diatas, misalnya penambahan-penambahan bahan tertentu untuk menggiatkan fermentasi. Fermentasi merupakan proses yang relatif murah yang pada hakekatnya telah lama dilakukan oleh nenek moyang kita secara tradisional dengan produk-produknya yang sudah biasa dimakan orang sampai sekarang seperti tape, oncom, kecap, yoghurt, dan lain – lain (Murtin

Reaksi:

2(C6H10O5)n + nH2O → n C12H22O11

Amilum/pati → amilase maltosa

C12H22O11 + H2O → 2 C6H12O6

Maltosa (dibantu) maltase → glukosa

C6H12O6 → 2 C2H5OH + CO2

Glukosa → alcohol

 

Menurut Winarno (1994), mikroba mampu hidup pada hampir semua tempat dan keadaan serta mampu bertahan dalam berbagai keadaan dan lingkungan baik pada suhu, tekanan, pH, tingkat osmosis serta keadaan yang ekstrim. Mikroba terdiri dari beberapa jenis proses pengendalian mutu dan pemeriksaan makanan misalnya khamir. Khamir sejak dulu berperan dalam fermentasi yang bersifat alkohol, dimana produk utama dari metabolisme adalah etanol.

Mikroorganisme dari kelompok kapang akan menghasilkan enzim-enzim amilolitik yang akan memecahkan amilum pada bahan dasar menjadi gula-gula yang lebih sederhana (disakarida dan monosakarida). Proses tersebut sering dinamakan sakarifikasi (saccharification). Kemudian khamir akan merubah sebagian gula-gula sederhana tersebut menjadi alkohol. Inilah yang menyebabkan aroma alkoholis pada tape. Semakin lama tape tersebut dibuat, semakin kuat alkoholnya (Ali, 2005).

Menurut Schlegel dan Schmid (1994), diantara mikroorganisme etanol merupakan produk peragian gula yang paling tersebar luas. Bahkan pada tumbuh – tumbuhan dan fungi pada kondisi anaerob terjadi penimbunan alkohol (etanol). Produsen utama alkohol adalah ragi terutama dari strain Saccharomyces cerevisiae. Kebanyakan ragi adalah fungi (jamur) dan merupakan organisme yang bernafas secara aerob. Dalam lingkungan terisolasi dari udara, organisme ini meragikan karbohidrat menjadi etanol dan karbondioksida. Peragian glukosa oleh ragi merupakan peristiwa anaerob, ragi sendiri adalah organisme aerob. Pada kondisi anaerob fermentasi oleh ragi aman intensif, namun ragi sendiri hampir tidak tumbuh. Dengan mengalirkan udara maka peragian dapat dihambat sempurna dan memasukkan banyak udara.

Ragi tape adalah medium yang baik bagi jamur pemecah pati membentuk alkohol seperti Chlamudomucor oryzae, Mucor sp, Rhyzopus oryzae, Hansenula sp, Saccharomyces cereviseae dan Candida sp. Fermentasi yang terjadi yaitu perubahan pati menjadi gula danoleh ragi gula diubah menjadi alkohol sehingga ketan menjadi lunak, berair, manis dan berbau alcohol (Anonim, 2009).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum pembuatan tapai ketan hitam dilaksanakan pada hari Senin,7 April 2014 pukul 07.30 WIB – selesai yang bertempat di Laboratorium Biologi I FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Pada penelitian kali ini digunakan metode Free Inquiry, dengan menggunakan variabel, alat, bahan, dan langkah kerja sebagai berikut :

  1. Alat dan Bahan
No Alat Jumlah   No Bahan
Beras Ketan 500 gram Panci
Air Secukupnya Sendok
Daun Pisang Secukupnya Toples
Ragi 2 Butir Kompor
Gula Pasir 2 Sendok Penyaring/ pengayak Ragi

 

  1. Langkah Kerja
  1. Cuci ketan hitam hingga bersih.
  2. Rendam ketan hitam tersebut selama satu malam, lalu tiriskan.
  3. Kukus ketan hingga matang.
  4. Setelah matang, ketan didiamkan diatas wadah hingga benar-benar dingin.
  5. Haluskan ragi tape hingga menjadi serbuk.
  6. Taburkan ragi diatas ketan yang benar-benar sudah dingin hingga merata.
  7. Ketan yang telah diberi ragi dimasukan kedalam toples dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus.
  8. Masukkan ketan tersebut kedalam dua wadah. Wadah pertama ditaburi gula pasir diatasnya, sedangkan wadah yang kedua tidak diberikan gula pasir.
  9. Simpan selama 2-3 hari, dan amati perubahan yang terjadi.
  1. Variabel
  1. Variabel Kontrol

Variabel Berupa jenis beras ketan, ragi, suhu, ruangan yang sama.

  1. Variabel Bebas

Ketan yang sudah diberi ragi disimpan dalam dua keadaan yang berbeda, dengan tambahan gula pasir dan tanpa penambahan gula pasir.

  1. Variabel Respon

Perbedaan lama proses fermentasi dan rasa yang dihasilkan.

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. DATA HASIL PENGAMATAN
Tabel Hasil Penelitian Tape Ketan Hitam
Belum ditambah Gula Sesudah ditambah gula
Kematangan Matang Matang
Rasa Asam Manis
Kadar air Sedikit Sedikit

 

  1. PEMBAHASAN

Tapai (sering dieja sebagai tape) adalah salah satu makanan tradisional Indonesia yang dihasilkan dari proses peragian (fermentasi) bahan pangan berkarbohidrat, seperti singkong dan ketan.  Tape adalah produk fermentasi yang berbentuk pasta atau kompak tergantung dari jenis bahan bakunya. Tape dibuat dengan menggunakan starter yang berisi campuran mikroba. Tape ketan baik ketan putih dan ketan hitam mempunyai tekstur yang baik karena kadar amilopektinnya tinggi terutama pada jenis tape dari ketan pulen. Kenaikan kadar alkohol terjadi akibat proses fermentasi yang terus berlangsung selama penyimpanan, sedangkan penurunannya karena proses esterifikasi, oksidasi, dan penguapan.

Dalam pembuatan tapai ketan, beras ketan perlu dimasak dan dikukus terlebih dahulu sebelum dibubuhi ragi. Campuran tersebut ditutup dengan daun dan diinkubasi pada suhu 25-30 °C selama 2-4 hari sehingga menghasilkan alkohol dan teksturnya lebih lembut.

Oksidasi alkohol disebabkan suasana aerobik yang terjadi selama waktu penyimpanan. Suasanan aerobik tersebut biasanya diikuti oleh aktivitas bakteri asetat, sehingga terbentuk asam asetat, yang menjadikan rasa asam pada brem. Kalau pada waktu penyimpanan tidak ditutup akan menyebabkan alkohol menguap. Bau asam disebabkan terbentuknya ester etil asetat dari reaksi alkohol dengan asam asetat yang terbentuk oleh suasana aerob dan bakteri asetat.

Pada praktikum digunakan ketan hitam sebagai bahan dasar yang telah diberi perlakuan dari proses perendaman, pengukusan, pendinginan, dan pembubuhan ragi agar nantinya menjadi tape dan yang terakhir yaitu pembungkusan dengan daun pisang yang kemudian didiamkan pada suhu kamar 2-3 hari (difermentasikan). Praktikan menggunakan 2 perlakuan yang berbeda pada tape ketan yaitu ketan pertama diberikan gula dan ketan kedua tidak diberikan gula. Adapun data hasil praktikum yang diperoleh dari hasil praktikum ini yaitu ditinjau dari segi tekstur, aroma dan rasa dari produk akhir yang dihasilkan.

Sebelum fermentasi, beras ketan masih berbentuk seperti beras pada umumnya. Namun, setelah mengalami fermentasi beras ketan tersebut mengalami perubahan bentuk dan menghasilkan air yang mengandung alcohol serta menimbulkan rasa asam dan manis. Kondisi tersebut disebabkan karena pada beras ketan diberikan ragi yang merupakan mikroorganisme yang berfungsi mengubah glukosa menjadi alcohol dan menghasilkan air.

  1. Tekstur

Tekstur tape ketan hitam dengan penambahan gula  dan ketan hitam tanpa penambahangula dinilai dengan cara menekan butiran tape dengan menggunakan jari dan dikunyah. Hasil yang diperoleh dari keduanya mengalami perubahan tekstur. Keduanya menjadi lebih lembek (lunak). Hal ini dikarenakan ketan hitam yang telah matang dihidrolisis oleh mikroorganisme dengan enzim karbohidrase dalam ragi melalui proses fermentasi.

  1. Air tape yang dihasilkan

Air tape yang dihasilkan pada waktu fermentasi sangat sedikitbaik pada tape ketan hitam tanpa penambahan gula maupun tape ketan hitam dengan penambahan gula. Dikarenakan adanya sedikit perbedaan jumlah (kuantitas) antara tape yang diberi tambahan gula dengan yang tidak diberikan gula, oleh sebab itu air tape yang dihasilkan pada tape ketan tanpa penambahan gula sedikit lebih banyak (tidak jauh berbeda) dibandingkan dengan tape yang ditambahkan dengan gula.

  1. Rasa

Terdapat perbedaan rasa pada kedua tape, tape yang diberi tambahan gula terasa manis, sedangkan tape yang tidak diberi gula terasa sedikit manis namun juga asam di waktu yang bersamaan. Rasa manis pada tape ketan ini  karena terjadi perubahan dari karbohidrat yaitu berupa pati dihidrolisis oleh mikroorganisme dalam ragi dipecah menjadi glukosa.

Glukosa menimbulkan rasa manis pada tape ketan. Semakin banyak glukosa yang dihasilkan maka semakin tinggi rasa manis yang ditimbulkan. Pembentukkan glukosa merupakan tahapan suatu rangkaian proses yang panjang. Dalam pemanfaatan proses fermentasi ini agar mendapatkan rasa tape yang  manis harus dikonsumsi pada waktu yang tepat yaitu sekitar 2-3 hari setelah pemeraman.  Jika ada alkohol maka bakteri asam asetat akan muncul dan menjadikan tape berasa masam. Cepat lambatnya tape menjadi masam tergantung lama fermentasi dan jumlah bakteri yang terkandung didalamnya. Pembuatan tape ketan ini tidak terlepas dari proses fermentasi. Fermentasi adalah suatu proses penghasilan energi utama dari berbagai mikroorganisme yang hidup dalam keadaan anaerob (Campbell; Recee; Mitchell. 2003). Dalam keadaan anaerob asam piruvat tidak dirubah  menjadi Asetil-KoA tetapi akan dirubah menjadi etanol (etil alcohol) dalam 2 langkah. Langkah pertama dengan melepaskan CO2 dari piruvat, yang diubah menjadi senyawa asetal dehida berkarbon 2. Dalam langkah kedua, asetal dehida direduksi oleh NADH menjadi etanol. Hal ini bertujuan untuk meregenerasi pasokan NAD+ yang dibutuhkan untuk glikolisis.Enzim yang mengkatalisis adalah karboksilase dan dehidrogenase. Dalam fermentasi glukosa menjadi alkohol hanya dihasilkan 2-ATP. Respirasi dilakukan secara anaerob yang secara umum dikatakan sebagai fermentasi seperti yang telah diungkap diatas bahwa kandungan ketan sangat baik untuk pertumbuhan mikroba yangdalam keadaan anaerob  akan mengubah gula menjadi senyawa etanol dan karbondioksida. Adapun reaksi perubahan glukosa menjadi alcohol dan alcohol menjadi asam asetat sebagai berikut.

Persamaan Reaksi Kimia:

C6H12O6 + 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP

Penjabarannya:
Gula (glukosa, fruktosa, atau sukrosa) + Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi.

 

BAB V

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  1. Penambahan gula berpengaruh terhadap hasil tape yang dihasilkan karena tanpa gula sekalipun tape yang sudah jadi akan terasa manis, karena sudah mengandung glukosa dan alkohol dari beras ketan hitam. Walaupun penambahan gula membuat rasa tape menjadi lebih manis.
  2. Pada proses pembuatan tape, jamur ragi akan memakan glukosa yang ada di dalam ketan hitam sebagai nutrisi untuk pertumbuhannya, sehingga ketan hitam akan menjadi lunak, jamur tersebut akan merubah glukosa menjadi alkohol.
  3. Tekstur dan kadar air yang dihasilkan aatara kedua tape (tape ketan hitam dengan penambahan gula maupun tanpa penambahan gula) tidak jauh berbeda.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Alimuddin. 2005. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Makasar: State University of Makassar Press

Buckle, dkk. 1985. Ilmu Pangan. Jakarta:University Press

Campbell, Reece, Mitchel. 2003. Biologi, Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga

Edward, dan Fleed, Watton. 1988. Ilmu Pangan. UI Press. Jakarta Desrosier, N.W. 1987. Teknologi Pengawetan Pangan. UI Press. Jakarta

Schlegel, Hans dan Schmid, Karin. 1994. Mikrobiologi Umum. UGM Press. Yogyakarta

Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi. Jakarta

Winarno, F.G. 1994. Pengantar Teknologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Anonim. 2009. Tape.( http://abynoel.wordpress.com/2008/08/15/bioteknologi/) (diakses pada tanggal 11 Apri 2014 pukul 23.22 WIB)

Anonima. 2009. Ragi Tape. (http://syahronie.blogspot.com/2008/05/pembuatan-tape-ketan.html) (diakses pada tanggal 11 April 2014 pukul 23.21 WIB)

Diana.2002.(http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/DIANA_ROCHINTANIAWATI/BIOLOGY_TERAPAN/PEMBUATAN_RAGI_TAPE_%26_TAPE.pdf). diakses pada 11 April 2014, pukul 17.25

 

 

PPT UAS Media dan Teknologi Pembelajaran “LIMBAH”

<div style=”margin-bottom:5px”> <strong> <a href=”http://www.slideshare.net/regianyyunistika/36-regiani-yunistika-3&#8243; title=”36. regiani yunistika 3″ target=”_blank”>36. regiani yunistika 3</a> </strong> from <strong><a href=”http://www.slideshare.net/regianyyunistika&#8221; target=”_blank”>Regiany Yunistika</a></strong> </div>

Bakteri Dibalik Hand Dryer

Apakah Anda termasuk orang – orang yang suka makan di luar seperti restoran cepat saji (fast food) atau tempat – tempat lainnya ? Sebelum dan sesudah makan pasti mencuci tangan dong ?  Atau ketika Anda sedang berada jauh dari rumah dan menggunakan fasilitas publik untuk mengeringkan tangan Anda? Agar cepat kering memakai hand dryer karena lebih praktis kan ?

Banyak orang beranggapan hand dryer sebagai bentuk produk hi – tech yang efisien memberikan perlindungan terhadap kuman yang lebih baik daripada menggunakan cara tradisional  menggunakan tisu. Oopsss tunggu dulu, ternyata hand dryer memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan.

Pada masing – masing telapak tangan setiap orang terdapat sekitar 500.000 bakteri, menurut dr. Wan Alkadri, Mantan Direktur Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. “Oleh sebab itu, jika ingin sehat, dianjurkan untuk sering – sering mencuci tangan dan menyingkirkan gerombolan bakteri itu”.

Penyebaran bakteri memang sangat cepat. Dalam waktu empat jam saja, satu sel bakteri dapat berkembang hingga mencapai jutaan. Dan tangan merupakan tempat dengan bakteri yang sangat banyak. Tangan kita banyak menyentuh benda dan permukaan. Tentu kontaminasi akan banyak terjadi melalui tangan kita. “Saat kita menyentuh banyak hal, akan ada banyak bakteri yang hidup di telapak tangan kita. Bakteri-bakteri ini bisa saja masuk dalam tubuh ketika kita menyentuh mata, hidung, atau mulut,” tutur Anis Karuniawati, Sp. MK, Ketua Laboratorium Mikrobiologi FKUI dalam acara bertema Rumah dengan Kuman atau Tanpa Kuman di Balai Kartini, Jakarta, baru-baru ini.

Mencuci tangan tampaknya hal sepele. Tapi ternyata, dengan mencuci tangan, kita bisa mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang hinggap tanpa kita sadari. Hal yang tidak kalah penting adalah mengeringkan tangan kita setelah mencuci tangan. Banyak yang menggunakan hand dryer untuk mengeringkan tangan, padahal kenyataannya lebih baik menggunakan tisu atau handuk karena kuman terangkat sempurna, sedangkan penggunaan hand dryer justru menyebabkan kuman tetap ada dan bahkan bertebangan.

Jika Anda temasuk orang yang suka mengeringkan tangan dengan hand dryer, kebiasaan ini harus segera dihentikan !! Daripada Anda terjangkit penyakit , pilih mana ? Hayooo ??  Sebenarnya bagaimana hand dryer justru bisa meningkatkan jumlah bakteri ? Pingin tau ? Sookkk mangga kita lihat…..

Ketika para peneliti mencari tahu lebih lanjut, mereka menemukan bagaimana cara penyebaran bakteri melalui hand dryer. Bakteri – bakteri tersebut sudah berada di dalam hand dryer, terimakasih untuk lingkungan di sekitar hand dryer yang hangat. Setiap hand dryer yang diuji, memiliki jumlah bakteri yang tinggi pada inlet udara, sedangkan 97 persen terletak pada daerah permukaan hand dryer. Ini adalah contoh nyata yang banyak terlihat pada toilet – toilet umum. Tentu saja akan berbeda jika Anda melakukan pengukuran di laboratorium yang bersih, Anda akan menemukan jumlah bakteri yang lebih rendah.

Bayangkan saja udara hangat yang bertiup pada tangan yang banyak bakteri sementara bakteri itu sendiri sudah banyak pada hand dryer nya. Hal ini menunjukkan bahwa hand dryer memiliki sebuah potensi ideal untuk mendistribusikan bakteri dan kuman lain melalui udara yang telah terkontaminasi. Masih ingin menggunakan hand dryer ??

Bahkan Centers For Disease (CDC) menyarankan di beberapa pemberitahuan online bahwa toilet umum harus menyediakan tisu dibandingkan penyediaan hand dryer.

Ingin tau lebih lanjut ?? Kita cerita dulu yukkk… Sebuah cerita dari salah satu rakyat Amerika yang menggunakan hand dryer. Banyak orang dalam bisnis pembersihan di Amerika sering memberi tahu bahwa hand dryer di toilet tidak sehat, alat itu menyebarkan kuman dan bakteri ke sekeliling. Kenapa hal ini bisa terjadi?

“Beberapa tahun lalu, saya sedang bekerja dengan seorang agen dan saya memperhatikan setelah dia mencuci tangannya dan melihat tidak ada tisu, hanya hand dryer saja, lalu ia meninggalkan toilet dengan tangan basah. Saya tanyakan hal itu padanya, ia berkata bahwa hand dryer meniupkan banyak kuman dan bakteri ke sekeliling, Ia juga berkata kepada saya, ketika Anda ke toilet lihatlah bagian bawah hand dryer ittu. Di bawahnya terdapat saringan yang seharusnya dibersihkan setiap minggu. Kemudian saya pun memperhatikan hand dryer itu dan terlihat hand dryer tersebut seperti sudah bertahun – tahun tidak dibersihkan. Pada saringan itu terdapat lapisan – lapisan yang jika saya menyebutnya seperti “kue di atas lendir krim (menjijikkan)”.

Penggunaan hand dryer yang menggunakan udara hangat pada tangan inilah yang menyebabkan peningkatan 254 % rata – rata jumlah bakteri pada telapak tangan serta dapat mencemari daerah sekitarnya , menurut sebuah penelitian terbaru oleh University Of Westminster di London. Justru sebaliknya penelitian ini menunjukkan bahwa rata – rata menggunakan tisu malah mengurangi bakteri di tangan sebesar 77 persen. Mengapa hal ini dapat terjadi ? Lingkungan hangat menjadi tempat yang sangat disukai bakteri untuk hidup.

School of Biosciences melakukan studi dari tiga metode pengeringan tangan yang berbeda yaitu dengan menggunakan tisu dan hand dryer. Setiap metode pengeringan tersebut menghasilkan hasil yang berbeda secara radikal (berbeda jauh). Dan tebak hasilnya teman – teman ?? Hand dryer lah yang menjadi juara dimana terlihat peningkatan yang mengkhawatirkan terhadap jumlah bakteri yang ditemukan pada telapak tangan dan bantalan jari.

Bersamaan dengan studi di atas, para peneliti dari Universitas Bradford dalam jurnalnya yaitu Journal Of Applied Microbiology juga menemukan hal yang sama bahwa menggunakan hand dryer justru semakin meningkatkan penyeban jumlah bakteri di tangan. Penelitian ini bahkan dimuat pada Daily Express dan The Daily Telegraph. Dan bahkan The Telegraph mengatakan bahwa menggunakan hand dryer setelah mencuci tangan “sungguh sangat tidak hiegienis dan mungkin lebih baik untuk tidak mencuci tangan sama sekali”

As The Telegraph said that using a hand dryer after washing your hands “is so unhygienic that it might be better to not wash at all”

Penelitian lebih lanjut ini bahkan menjadi test dengan hasil terburuk yang menunjukkan bahwa hand dryer meningkatkan jumlah bakteri rata – rata 194 persen pada bantalan jari dan 254 persen pada telapak tangan.

Pasti temen – temen bertanya – tanya sebenarnya bakteri apa sih di balik hand dryer tersebut ? Penelitian oleh School of Biosciences ini mendapatkan hasil bahwa peningkatan dramatis terjadi dalam jumlah bakteri jenis Staphylococcus aureus, sejenis bakteri yang diketahui menyebabkan keracunan makanan bahkan bisul.

University of Westminster Senior Akademik Keith Redway mengatakan : “ Kehadiran semua jenis Staphylococcus aureus pada tangan pekerja dalam industri makanan atau bidang medis harus dianggap serius  jika peningkatan jumlah bakteri tersebut disebabkan oleh metode pengeringan tangan”.

Namun, bukan hanya jenis Staphylococcus aureus yang teridentifikasi, tentu masih banyak jenis lainnya. Hembusan udara hangat juga merupakan media yang sangat ideal bagi penyebaran bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli. Udah liat kan bakteri – bakterinya apa aja ? So stay health guys ….!!

Nah, sekarang sudah tau kan bagaimana hand dryer bisa menyebarkan bakteri – bakteri pada tangan kita serta bakteri yang seperti apa ? Kira – kira bagaimana solusi untuk mengantisipasi hal ini ? Gak mau kan abis mencuci tangan,  gak dikeringin karena takut terkena bakteri – bakteri nakal ? Gimana ya caranya ?

Seperti kata pepatah jangan pernah meninggalkan sejarah. Begitu pula dengan bentuk – bentuk budaya tradisional. Tau gakk ? Ternyata metode mengeringkan tangan yang paling efektif itu hanya menggunakan tisu. Masih berlanjut pada penelitian yang dilakukan oleh School of Biosciences menyatakan :

“The superior performance of paper towels over the two types of dryer in reducing the numbers of bacteria was shown with both the finger pads and the palms of the subjects,  said Keith Redway. Paper towels are the safest method. “  The test confirmed that paper towels are the safest method of drying your hands after washing. In all tests, paper showed a reduction of bacteria. The average decrease was 76 percent on the finger pads and 77 percent on the palms. Also, paper is not likely to contaminate the washroom environment or other users.

“Using paper towels results in a significant decrease in the numbers of bacteria on the hands, a clear advantage compared with the increases observed for both types of electric hand dryer tested in this study.  In addition, paper towels are far less likely to contaminate other washroom users and the washroom environment,” said Keith.

Artinya kurang lebih seperti ini nih..

“Bentuk unggul ditunjukkan oleh tisu dibandingkan dengan dua jenis hand dryer (yang digunakan sampel dalam penelitian bersamaan dengan tisu) dalam mengurangi jumlah bakteri yang terlihat baik pada bantalan jari dan telapak tangan. Tes menegaskan bahwa menggunakan tisu adalah metode yang paling aman dari mengeringkan tangan Anda setelah mencuci. Dalam semua tes, penggunaan tisu menunjukkan penurunan bakteri. Penurunan rata – rata adalah 76 persen pada bantalan jari dan 77 persen di telapak tangan. Dan juga tisu tidak akan mencemari lingkungan toilet atau pengguna lainnya”

“Menggunakan tisu menghasilkan penurunan yang signifikan dalam jumlah bakteri di tangan, keuntungan yang jelas dibandingkan dengan kenaikan  jumlah bakteri pada   kedua jenis hand dryer yang diuji dalam penelitian ini. Selain itu, tisu lebih kecil kemungkinannya untuk mencemari pengguna toilet lain dan lingkungan kamar kecil, “kata Keith.

Daftar Pustaka

Daniel R. Gustafson and Emily A. Vetter,2000, Effects of 4 Hand – Drying Methods For  Removing Bacteria From Washed Hands : A Randomazed Trial, Mayo Clin Pro.  

Keith Redway and Shameem Fawdar , 2009, European Tissue Symposium (ETS) “A Comparative Study Of Different Hand Drying Methods, London : School of Bioscienses and University Of Westminster

Journal of Applied Micribiology, 2010, Comparative Evaluation of The Hygienic Efficacy of an Ultra – rapid Hand dryer vs Conventional Warm Air Hand dryer, London, West Yorkshire : Bradford Infection Group, University Of Bradford

http://www.abc.net.au/science/articles/2011/02/15/3139197.htm

http://health.detik.com/read/2010/06/23/084631/1384402/766/disclamer.html

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/110155mesin_pengering_tangan_menyebar_bakteri

http://www.nytimes.com/2010/09/14/health/14real.html

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1365-2672.2010.04838.x/full

http://www.snopes.com/medical/swineflu/handblower.asp

http://www.tork.com.au/Why-Tork/TorkHygiene/Warm-air-hand-dryers-increase-bacteria-on-hands/

Contoh Lembar Kerja Siswa (LKS)

LEMBAR KERJA SISWA

 Jenis Limbah dan Daur Ulang Limbah

 

Topik                          :    Jenis – jenis limbah dan daur ulang limbah

Tujuan pengamatan  :    Siswa mampu menganalisis jenis limbah dan daur ulang limbah

 

Pendahuluan

            Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga) yang lebih dikenal sebagai sampah dan kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia senyawa organik dan senyawa anorganik.

Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian :

  1. Limbah cair
  2. Limbah padat
  3. Limbah gas dan partikel
  4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

a.        Limbah Cair

Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 tahun 2001). Jenis – jenis limbah cair dapat digolongkan berdasarkan pada sifat fisika dan sifat agregat, parameter logam contohnya pada Arsenik (As) dengan metoda SSA, anorganik non metalik, organik agregat, mikroorganisme, sifat khusus, air laut contohnya tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA.

b.        Limbah Padat

Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat – tempat umum. Jenis – jenis limbah padat : kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dan lain – lain.

c.         Limbah gas dan partikel

Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh beberapa partikulat zat (limbah) yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

d.      Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus.

Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3. Limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi primary sludge, chemical sludge, excess activated sludge, digested sludge.

Alat dan Bahan

  1. Alat tulis
  2. Kertas
  3. Kamera

Langkah Kerja

  1. Tentukan lokasi observasi sesuai dengan tugas tiap per kelompok (rumah, pasar, sekolah, sungai).
  2. Setiap kelompok melakukan kegiatan pengamatan di masing – masing lokasi yang telah ditentukan. Kegiatan pengamatan dilakukan selama dua hari.
  3. Kumpulkan data tentang jenis sampah yang ada di lokasi pengamatan. Kategorikan jenis sampah tersebut berdasarkan kriteria berikut ini yaitu :
  • Limbah organik
  • Limbah anorganik
  • Limbah yang dapat didaur ulang
  1. Masukkan data hasil pengamatan tersebut ke dalam lembar hasil pengamatan.
  2. Identifikasi cara yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar lokasi pengamatan untuk mengamati limbah tersebut
  3. Mencari informasi dari berbagai sumber literatur (koran, majalah, dan lain – lain) tentang limbah golongan B3 (Beracun dan Berbahaya) dan dampaknya bagi manusia dan ekosistem.
  4. Lengkapi hasil observasi dan pencarian informasi dengan gambar atau foto
  5. Laporkan hasil observasi dan pencarian informasi dalam bentuk jawaban LKS dan presentasi.

Pertanyaan sebelum pengamatan !

  1. Apakah yang dimaksud dengan limbah ?
  2. Sebutkan macam – macam limbah berdasarkan karakteristiknya !
  3. Apa saja kriteria limbah yang dapat digolongkan ke dalam limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ?
  4. Sebutkan klasifikasi limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) !

 

Rumusan Masalah

Tulislah rumusan masalah yang akan menjadi dasar pada hipotesis

 

Hipotesis

Pernyataan sementara yang akan Anda ajukan mengenai pemahaman Anda terhadap materi limbah di atas dengan berdasarkan pada rumusan masalah

 

     LEMBAR HASIL PENGAMATAN

 

Lokasi Pengamatan     :           ………………………………………………….

Tanggal Pengamatan   :           ………………………………………………….

Kelompok                   :           ………………………………………………….

Dalam bentuk tabel

No Nama Limbah Organik Anorganik Dapat didaur ulang
         
         
         
         
dst…        

 

Pertanyaan setelah praktikum!

  1. Dari hasil pengamatan, jelaskaskan cara – cara yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar lokasi pengamatan untuk mengatasi limbah tersebut !
  2. Apakah dampak limbah golongan B3 (Beracun dan Bebahaya) bagi manusia dan ekosistem ?
  3. Apa kriteria kualitas limbah yang dapat digunakan sebagai parameter polutan? Jelaskan !
  4. Buatlah refleksi diri tentang usaha yang telah dilakukan  untuk mengatasi limbah yang ada di rumah dan di lingkungan serta buatlah rancangan atau usulan usaha untuk mengatasi limbah tersebut ? Perkirakan apakah rancangan tersebut dapat efektif jika dilaksanakan ?

 

Pembahasan

Pembahasan yang akan Anda jabarkan dibandingkan dengan referensi baik yang berasal dari media cetak maupun elektronik. Yaitu membandingkan hasil pengamatan Anda pada Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan referensi.

 

 Kesimpulan

Kesimpulan yang Anda peroleh dari Lembar Kerja Siswa (Pengamatan yang telah Anda lakukan)

 

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka yang akan menjadi sumber referensi bagi Anda. Baik yang berasal dari media elektronik maupun media cetak.

 

 

 

Klasifikasi Bryophyta (Tumbuhan Lumut)

Di dunia ini terdapat lebih dari 280.000 spesies tumbuhan dan belum termasuk sekitar 100.00 spesies jamur yang semuanya telah diidentifikasi dan telah diberi nama sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Tumbuhan yang tingkat perkembangannya lebih rendah karena hanya memiliki thallus dan tidak memiliki akar, batang dan daun sejati yaitu  terdiri atas alga, fungi (jamur), lichenes, tumbuhan lumut (Bryophyta) dan tumbuhan paku (Pterydophyta).

Dalam pembahasan kali ini, akan dibahas lebih mendalam mengenai tumbuhan lumut (Bryophyta). Lumutdalam bahasa sehari-hari (kolokial) merujuk pada sekelompok vegetasi kecil yang tumbuh pada tempat lembab atau perairan dan biasanya tumbuh meluas menutupi permukaan. Di perairan lumut dapat menutupi dasar atau dinding sungai atau danau Lumut merupakan kelompok tumbuhan yang telah beradaptasi dengan lingkungan darat sehingga disebut tumbuhan darat (teresterial) walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah. Tumbuhan lumut (Bryophyta)  memiliki ukuran yang relaitf kecil dan hanya beberapa milimeter. Pada masa seperti sekarang ini tumbuhan lumut dapat ditemukan di semua habitat kecuali di laut (Gradstein, 2003). Dalam skala evolusi lumut berada diantara ganggang hijau dan tumbuhan berpembuluh (tumbuhan paku dan tumbuhan berbiji) (Hasan dan Ariyanti, 2004).

Lumut dapat dibedakan dari tumbuhan berpembuluh terutama karena lumut (kecuali Polytrichales) tidak mempunyai sistem pengangkut air dan makanan. Selain itu lumut tidak mempunyai akar sejati seperti yang telah disebutkan diatas dan lumut melekat pada substrat dengan menggunakan rhizoid. Siklus hidup lumut dan tumbuhan berpembuluh juga berbeda (Hasan dan Ariyanti, 2004). Pada umumnya struktur tubuh tumbuhan lumut mempunya ciri –ciri sebagai berikut :

1. Bentuk tubuhnya pipih

2. Bersel banyak

3. Mempunyai dinding sel yang tersusun dari selulosa

4. Melekat pada substratnya

5. Bersifat Aututrof

6. Bentuk akar seperti benang-benang

7. Daunya terdiri atas selapis sel yang mengandung klorofals berbentuk jala

Ada beberapa ahli yang menggolongkan lumut menjadi 2 kelas lumut yaitu lumut hati (Hepaticeae) dan lumut daun (Musci) tetapi hasil penelitian terbaru dibagi menjadi tiga yaitu Briofita (Lumut Sejati), Hepaticeae (Lumut Hati) dan Herecofita (Lumut Tanduk). Berikut akan dibahas mengenai ketiga jenis lumut tersebut.

1.        Briofita (Lumut Sejati atau Lumut Daun)

Disebut lumut daun karena pada jenis ini lumut telah ditemukan daun meskipun ukurannya masih kecil. Lumut daun merupakan jenis lumut yang banyak diumpai sehingga paling banyak dikenal. Kelas Briofita merupakan kelas paling besar dan tinggi tingkatan perkembangbiakkannya diantara ketiga kelas Bryophyta karena baik gametofit maupun sporofofitnya mempunyai bagian – bagian yang lebih kompleks..
Sporofit pada umumnya lebih kecil , berumur pendek dan hidup tergantung pada gametofit. Siklus hidup lumut daun mengalami pergantian antara generasi haploid dengan diploid.

Ciri – ciri dari Briofita :

  1. Protonema berbentuk daun kecil dan tiap protonema hanya akan membentuk satu gametopora.
  2. Gametofora terdiri dari batang – batang yang bercabang dengan daun – daun dan gametofora tidak mempunyai rizoid.
  3. Sporangium mempunyai kaki yang lebar serta hanya berupa lekukan antara kaki dari kapsul dan tidak terdapat peristom pada kapsul.
  4. Fase dominannya adalah berupa fase gametofit
  5. Akarnya belum berupa akar namun masih berupa rhizoid

Lumut daun pada umumnya dapat tumbuh di atas tanah – tanah gundul yang periodik mengalami masa kekeringan bahkan di atas pasir yang dapat bergerak pun dapat tumbuh. Lumut – lumut ini juga dapat kita jumpai diantara rumput – rumput, di atas batu cadas, pada batang pohon dan cabang – cabang pohon, dirawa- rawa tetapi jarang di dalam air.

Tubuh tersusun dari sumbu (batang), daun dan rhizoid multiseluler. Daun tersusun dalam 3 – 8 baris. Daun mempunyai rusuk (simetri radial). Sumbu batang pada lumut daun biasanya menunjukkan diferensiasi menjadi epidermis korteks dan silinder pusat. Alat kelamin tubuh pada bagian ujung batang, sporongium terdiri dari kaki, tangkai dan kapsul. Gigi peristoma terdapat satu atau dua deret melingkari lubang diujung kapsul (Misher et al, 2003) Contoh-contoh spesiesnya adalah Polytrichum juniperinum, Furaria sp, Pogonatum cirratum, dan Sphagnum sp (lumut gambut).

2.        Hepatofita (Lumut Hati )

Disebut sebagai lumut hati karena memiliki bentuk yang menyerupai hati. Tempat tumbuhnya pada tanah – tanah yang cukup basah. Dalam lumut hati dibagi menjadi dua yaitu lumut hati jantan dan lumut hati betina yang masing – masingnya menghasilkan anteridium dan arkegonium. Seperti halnya pada lumut daun (Biofita) yang mengalami pergiliran keturunan lumut hati juga mengalami pergilirian keturunan (metagenesis).

Ciri – ciri dari Hepatofita :

  1. Gametofit bewarna hijau, pipih, dorsiventral, struktur talus sederhana atau terdiferensiasi atas batang dan daun – daun, menempel pada tanah dengan menggunakan rhizoid.
  2. Spora yang berkecambah tidak melalui pembentukan protonema
  3. Sporofit tidak mempunyai sel yang mengandung kloroplas dan didalamnya tidak ada kolumella.

Contoh spesies dari Hepatofita yaitu Marchantia Polymorpha.

 3.        Herecofita / Anthoceropsida (Lumut Tanduk)

Disebut sebagai lumut tanduk karena morfologi sporofitnya mirip seperti tanduk hewan. Anthoceropsida atau lumut tanduk mempunyai gametofit bertalus dengan sporofit indeterminate dan berklorofil. Berbeda dengan Bryophyta lainnya, sel-sel talus Anthocerpsida mempunyai satu kloroplas besar pada masing-masing selnya.  Kapsul berbentuk silindris memanjang dimulai dari bagian ujung kapsul (Hasan dan Ariyanti, 2004). Gametofitnya mirip dengan lumut hati, perbedaannya terletak pada sporofitnya. Sporofit lumut tanduk mempunyai kapsul memanjang yang tumbuh seperti tanduk dari gametofit.

Ciri – ciri Anthoceropsida :

  1. Gametofit berbentuk lembaran
  2. Sporofit berbentuk pipa memanjang ke atas seperti tanduk
  3. Di dalam tanduk dihasilkan spora
  4. Struktur anatomi talus homogen dan tiap sel mengandung satu kloroplas dengan satu pirenoid yang besar
  5. Sporogonium terdiri atas kaki dan kapsul
  6. Spore berkecambah tidak membentuk protonema
  7. Perkembangbiakkan aseksual sama dengan lumut hati.

Contoh dari spesies Anthoceropsida adalah Anthoceros leavis.

 

 

 

 

 

 

Organisasi dan Kelembagaan Pendidikan

Organisasi lembaga pendidikan adalah suatu organisasi yang unik dan kompleks karena lembaga pendidikan tersebut merupakan suatu lembaga penyelenggara pendidikan.  Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan badan pemerintahan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.

Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, pada intinya organisasi adalah koordinasi secara rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama yang dirumuskan secara eksplisit, melalui peraturan dan pembagian kerja serta melalui hierarki kekuasaan dan tanggung jawab. Namun selain itu organisasi juga dijelaskan oleh beberapa ahli yang pada dasarnya mempunyai maksud dan pengertian yang sama dengan pengertian di atas.

Tujuan dari organisasi kelembagaan pendidikan itu sendiri  antara lain adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyaraat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, memperkaya khanazah ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Adapun organisasi di dalamnya mengandung beberapa ciri – ciri antara lain adanya seperangkat unsur yang saling bergantung dan saling berhubungan antara satu dengan yang lain, adanya pembagian tugas dan tanggung jawab, adanya perencanaan yang jelas dan adanya koordinasi dan kooperasi yang baik. Sehingga jika ciri – ciri dari organisasi tersebut sudah terpenuhi dengan baik maka tujuan semula dari pembentukan organisasi tersebut juga akan mudah untuk dicapai.

Bentuk – bentuk organisasi memiliki banyak bentuk. Mengapa demikian ? Hal ini sebenarnya bergantung dari bagaimana cara pandang orang mengkategorikan organisasi tersebut. Jika dilihat dari hubungan dengan otoritas maka bentuk organisasi tersebut antara lain yaitu :

  1. Organisasi lini atau garis, dimana otoritas mengalir dari puncak organisasi dilimpahkan kepada unit-unit organisasi di bawahnya dalam semua sektor pekerjaan.
  2. Organisasi lini dan staf, otoritas berasal dari pimpinan puncak dan dilimpahkan kepada unit di bawah, dan terdapat unit organisasi yang membantu pimpinan dalam bidang tertentu.
  3. Organisasi fungsional, organisasi dimana otoritas pimpinan puncak didelegasikan kepada unit-unit organisasi hingga ke paling bawah dalam bidang pekerjaan tertentu dan masing-masing pimpinan unit mempunyai otoritas secara fungsional untuk memerintah semua pelaksanaan dari semua unit sepanjang berhubungan dengan pekerjaannya.
  4. Organisasi lini fungsional, memperlihatkan ciri organisasi lini dan organisasi fungsional.
  5. Organisasi lini-staf-fungsional, memperlihatkan ciri-ciri organisasi lini dan sifat serta organisasi fungsional.

Pada dasarnya bentuk – bentuk organisasi yang terklasifikasi di atas mempunyai bentuk terdapatnya aliran kekuasaan dari pimpinan atau atasan kepada bawahan yang membantu atau staff – staff demi terciptanya keberlangsungan sebuah organisasi yang optimal. Dan bentuk – bentuk tersebut tidak dapat terlaksana jika tidak ada struktur organisasi yang melaksanakan. Oleh sebab itu, jika dihubungkan dengan kelembagaan pendidikan maka struktur organisasi merupakan sebagai sebuah keseluruhan yang menggambarkan kesatuan dari berbagai segmen dan fungsi organisasi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, ukuran, jenis teknologi yang digunakan dan sasaran yang hendak dicapai dalam proses pendidikan itu sendiri. Struktur dari lembaga pendidikan yang ada di Indonesia tersebut antara lain yaitu Bidang Perencanaan dan Evaluasi, Bidang Pendidikan dan Pelatihan Non – diplomatik dan Teknis, Bidang Pendidikan dan Pelatihan Struktural dan Kerjasama Pendidikan dan Pelatihan, serta Bagian Tata Usaha dan menjadi salah satu struktur organisasi yang fatal sebab menangani masalah administrasi.

Dalam tahap pengimplementasian organisasi kelembagaan ini dibedakan jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Jalur pendidikan terdiri atas jalur pendidikan formal seperti sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah yang didalamnya terdapat jalur pendidikan nonformal dan informal. Jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan anak usia dini, taman kanak – kanak, pendidikan usia dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Di Indonesia sendiri sudah diwajibkan untuk mengenyam pendidikan minimal sembilan tahun hingga sekolah menengah pertama sebagai upaya peningkatan mencerdaskan kehidupan berbangsa melalui para generasi muda dewasa ini.

Sedangkan untuk jenis pendidikannya sendiri terdiri atas pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan dan pendidikan khusus seperti Sekolah Luar Biasa untuk orang yang memiliki kekurangan seperti orang cacat.

Sehingga jika ditinjau kembali hal – hal yang telah dipaparkan diatas merupakan komponen – komponen penting yang dibutuhkan dalam berdirinya sebuah organisasi yang bersifat fundamental dan harus ada, tidak boleh tidak. Bagaimana hakikat, tujuan, bentuk, ciri, struktur dan pengimplementasiannya dalam praktek kehidupan pembelajaran langsung di lapangan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!